Laman

Selasa, 06 Februari 2018

APLIKASI RENTANG NILAI MAPEL UNTUK RAPOR

Assalamu'alaikum, Bapak dan Ibu Guru yang terhormat

Di kesempatan ini, saya mencoba untuk mempromosikan sebuah aplikasi yang diharapkan dapat membantu Bapak dan Ibu untuk meningkatkan penilaian pengetahuan dan keterampilan siswa kita pada mata pelajaran yang Bapak dan Ibu ajarkan.

Aplikasi ini akan membantu merentang nilai siswa-siswa sehingga mencapai posisi nilai yang sesuai tanpa melakukan penambahan nilai secara individu yang akan dinilai sangat tidak adil.

Sebagian guru akan berpendapat bahwa aplikasi ini sama saja dengan bentuk pembodohan para siswa. Semua itu dikembalikan saja  pada guru bersangkutan. Namun pada kenyataannya, banyak siswa yang telah melakukan remedial beberapa kali masih belum mencapai standar KKM yang ada.
Oleh karena itu, semoga aplikasi yang saya rilis ini dapat membantu siswa dan guru dalam PBM dalam setiap semester.

Sebenarnya saya dengan berat hati mengkomersilkan aplikasi ini, Tetapi mengingat kesulitan dalam proses pengerjaannya, maka saya terpaksa tidak bisa memberikannya secara gratis.

Jika Bapak/Ibu tertarik, harga yang tersedia IDR 300.000 (hraga PROMO s.d. 6 Maret 2018) dan silahkan menghubungi saya melalui WA 085835446900. Terima kasih.

APLIKASI INI BUKAN APLIKASI NILAI MAPEL! Aplikasi ini adalah aplikasi perentang nilai saja.

Berikut ini previewnya. Klik gambar untuk tampilan lebih besar.

Halaman Beranda
Halaman Rentang Nilai
Halaman Rekap Nilai dengan input secara horizontal

Halaman Nilai Rapor untuk Aplikasi dengan input Vertikal







Kamis, 06 Desember 2012

DEGREES OF COMPARISON


Degrees of Comparison merupakan bentuk kalimat yang digunakan untuk membandingkan dua hal (… lebih … dari …) atau secara keseluruhan (paling …). Ada 3 bentuk derajat perbandingan, yaitu:

  1. Positive Degree
  2. Comparative Degree
  3. Superlative Degree

Sekarang, mari kita bahas satu persatu tentang Degrees of Comparison tersebut.

1.    Positive Degree
Positive Degree digunakan untuk membicarakan seseorang atau sesuatu. Tipe ini yang paling sering digunakan dalam kalimat yang melibatkan adjective (kata sifat).
Contoh:
John is tall.
The house is big.
The field is wide.

2.    Comparative Degree
Comparative Degree digunakan untuk membandingkan antara dua hal. Pada bentuk ini, ada ketentuan khusus adjective yang digunakan berdasarkan pada jumlah suku kata (syllable) yang terkandung dalam adjective tersebut.

2.a.Untuk adjective yang terdiri dari satu atau dua suku kata.

Benda 1 + to be + (Adjective + -er) + than + Benda 2

Mari perhatikan table perubahan adjective berikut.
Positive
Comparative
Big
Small
Tall
Short
Wide
Cheap
Bigger
Smaller
Taller
Shorter
Wider
Cheaper

Contoh:
-          Andy is 165 cm tall.
-          Bryan is 163 cm tall.
Jadi, jika kedua orang tersebut dijelaskan dalam bentuk Comparative Degree, maka akan ditulis dengan:
Andy is taller than Bryan, atau
Bryan is shorter than Andy.

2.b.Untuk adjective yang terdiri dari dua atau lebih suku kata.

Benda 1 + to be + (more + Adjective) + than + Benda 2

Sekali lagi, perhatikan table perubahan adjective tersebut.
Positive/Adjective
Comparative
Expensive
Narrow
more expensive
more narrow

Contoh:
-          My book is Rp 12,000
-          Your book is Rp 13,000
Jadi, jika kedua benda tersebut dijelaskan dalam bentuk Comparative Degree, maka akan ditulis dengan:
Your book is more expensive than my book.


3.    Superlative Degree
Superlative Degree digunakan untuk membandingkan antara 1 benda  terhadap keseluruhan benda lainnya. Bentuk ini juga memiliki ketentuan khusus adjective yang digunakan berdasarkan pada jumlah suku kata (syllable) yang terkandung dalam adjective tersebut.

3.a.Untuk adjective yang terdiri dari satu atau dua suku kata.

Benda + to be + the (Adjective + -est)

Tabel perubahan.
Positive
Comparative
Superlative
Big
Small
Tall
Short
Wide
Cheap
Bigger
Smaller
Taller
Shorter
Wider
Cheaper
Biggest
Smallest
Tallest
Shortest
Widest
Cheapest

Contoh:
-          Andy is 165 cm tall.
-          Bryan is 163 cm tall.
-          Charli is 160 cm tall.
Jadi, jika kedua orang tersebut dijelaskan dalam bentuk Superlative Degree, maka akan ditulis dengan:
Andy is the tallest among them.


3.b.Untuk adjective yang terdiri dari dua suku kata atau lebih.

Benda + to be + the (most + Adjctive)

Sekali lagi, perhatikan table perubahan adjective tersebut.
Positive
Superlative
Expensive
Narrow
most expensive
most narrow

Contoh:
-          My book is Rp 12,000
-          Your book is Rp 13,000
-          Her book is Rp 15,000
Jadi, jika kedua benda tersebut dijelaskan dalam bentuk Superlative Degree, maka akan ditulis dengan:
Her book is the most expensive.

NOUN CLAUSE


Clause merupakan kata-kata yang telah mengandung subjek dan verb atau verb saja (bisa diikuti dengan objek dan/atau adverb) namun belum bisa dikatakan sebagai sebuah kalimat sempurna karena masih membutuhkan clause yang lain agar menjadi sebuah kalimat sempurna dengan makna yang dapat dimengerti.
Dengan kata lain, sebuah kalimat sempurna yang dibentuk menggunakan clause terdiri atas 2 jenis clause yaitu, DEPENDENT CLAUSE dan INDEPENDENT CLAUSE. Untuk menghubungkan antara INDEPENDENT CLAUSE dan DEPENDENT CLAUSE diperlukan sebuah introductory conjunction, seperti: that, whteher (or not), if, who, what, which, when, why, where, to whom, with whom, how, how much, whoever, whatever, whichever, whenever, wherever, however, dan sebagainya.

NOUN CLAUSE sendiri merupakan DEPENDENT clause yang berfungsi sebagai kata benda (noun) dimana  dapat mengisi semua posisi kata benda tunggal (word) ataupun frasa (phrase), diantaranya:

1.      Noun Clause sebagai Subjek kalimat.
  Contoh:
  It is difficult to understand.
  What you say is difficult to understand.

2.      Noun Clause sebagai Objek kalimat.
  Contoh:
  I agree with it.
  I agree with whatever you said.
  I don’t know where it is.

3.      Noun Clause sebagai Complement (Penjelas)
a.      Complement setelah Noun
  Contoh:
  The man whom I talked to yesterday is her father.
  The man who talked to me yesterday is her father.

b.      Complement setelah Linking Verb/To Be (is/am/are,was/were,be,been,being)
  Contoh:
  The question is how we can get the money.
  Bukittinggi is where I was born 29 years ago.

TAG QUESTION



Tag Question adalah suatu kalimat pernyataan yang diakhiri dengan sebuah kalimat tanya. Jenis kalimat ini dimaksudkan untuk menegaskan informasi dari lawan bicara. Dalam bahasa lisan, Tag Question dapat disampaikan dengan intonasi meninggi dan menurun.
Apabila kita mengungkapkan ini dengan nada tinggi, berarti kita mengharapkan penegasan mengenai suatu hal yang masih kita ragukan. Namun, bila disampaikan dengan intonasi yang menurun, berarti kita mengharapkan penegasan mengenai sesuatu hal yang telah kita yakini kebenarannya. Dalam hal ini, kita mengharapkan jawaban “Yes”.
Dalam percakapan sehari-hari, kita sering menggunakan bentuk Question Tags ini kata “Right”, “OK”, ataupun “Yes”.
Contoh:
“She’s your friend, right?”
“She’s your friend, OK?”, or
“She’s your friend, yes?”
Namun, ungkapan ini tidak boleh digunakan dalam bahasa tulisan yang formal.

Dalam Tag Question, ada 2 bagian kalimat yang terlibat.
  1. Kalimat pernyataan, yang terdiri atas 2 jenis:
a.       Pernyataan Positif
b.      Pernyataan Negatif
  1. Tag Question, yang terdiri atas 2 jenis:
a.       Tag Question Positif
b.      Tag Question Negatif

Rumus:
  1. Pernyataan Positif, Tag Question Negatif?
  1. Pernyataan Negatif, Tag Question Positif?

ADJECTIVE CLAUSE


Adjective Clause adalah Dependent Clause yang berfungsi selayaknya kata sifat. Adjective Clause menjelaskan kata benda (noun) atau kata ganti (pronoun) yang mendahuluinya. Kata benda atau kata ganti yang digantikan disebut antecedent. Untuk menghubungkan antecedent dengan adjective clause, kita menggunakan relative pronoun; who, whom, whose, which, that, in which (where), on which (when). Dalam bahasa Indonesia, relative pronoun tersebut bisa disetarakan maknanya dengan kata “yang”.
Adjective Clause dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1.      Adjective Clause sebagai Pengganti Subjek
Contoh:
Main clause            : Ali repairs a bike.
Dependent Clause  : a. He is a mechanic.
b.    It is broken by his friend.

Untuk mengkombinasi, perlu diingat bahwa kita harus menggabungkan dependent clause terhadap main clause. Oleh karena itu kita harus memperhatikan apa yang menjadi penghubung antara dependent clause terhadap main clause.
Antara Main Clause dan Dependent Clause (a) yang menjadi penghubung adalah “he” karena “he” merupakan kata ganti untuk “Ali” (main clause). “He” akan digantikan dengan relative pronoun “who” sehingga kalimatnya akan menjadi:

Ali who is a mechanic repairs a bike.

Sedangkan, antara Main Clause dan Dependent Clause (b) yang menjadi penghubung adalah “it” karena “it” merupakan kata ganti untuk “a bike” (main clause). “It” akan digantikan dengan relative pronoun “which” sehingga kalimatnya akan menjadi:

Ali repairs a bike which is broken by his friend.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
a.    Relative Pronoun who dan which digunakan untuk menggantikan posisi subjek pada dependent clause setelah dependent clause bergabung dengan main clause.
b.    Relative Pronoun who berfungsi menggantikan kata benda (noun) ataupun kata ganti (pronoun) yang berupa manusia, sedangkan Relative Pronoun which berfungsi menggantikan kata benda (noun) ataupun kata ganti (pronoun) yang berupa non-manusia (hewan, tumbuhan, dan benda mati).

2.      Adjective Clause sebagai Pengganti Objek
Contoh:
Main clause            : Ali repairs a bike.
Dependent Clause  : a. I met him yesterday.
   b.  I borrowed it yesterday.

Antara Main Clause dan Dependent Clause (a) yang menjadi penghubung adalah “him” karena “him” merupakan kata ganti untuk “Ali” (main clause). “He” akan digantikan dengan relative pronoun “whom” sehingga kalimatnya akan menjadi:

Ali whom I met yesterday repairs a bike.

Sedangkan, antara Main Clause dan Dependent Clause (b) yang menjadi penghubung adalah “it” karena “it” merupakan kata ganti untuk “a bike” (main clause). “It” akan digantikan dengan relative pronoun “which” sehingga kalimatnya akan menjadi:

Ali repairs a bike which I borrowed yesterday.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
a.    Relative Pronoun whom dan which digunakan untuk menggantikan posisi objek pada dependent clause setelah dependent clause bergabung dengan main clause.
b.   Relative Pronoun whom berfungsi menggantikan kata benda (noun) ataupun kata ganti (pronoun) yang berupa manusia, sedangkan Relative Pronoun which berfungsi menggantikan kata benda (noun) ataupun kata ganti (pronoun) yang berupa non-manusia (hewan, tumbuhan, dan benda mati).



3.    Adjective Clause sebagai Pengganti Pronoun Kepemilikan (Possessive Adjective)
Contoh:
Main clause            : Ali repairs a bike.
Dependent Clause  : a. His jacket is blue.
b.    Its tires are red.

Antara Main Clause dan Dependent Clause (a) yang menjadi penghubung adalah “him” karena “his” merupakan kata ganti kepemilikan (Possessive adjective) untuk “Ali” (main clause). “His” akan digantikan dengan relative pronoun “whose” sehingga kalimatnya akan menjadi:

Ali whose jacket is red repairs a bike.

Sedangkan, antara Main Clause dan Dependent Clause (b) yang menjadi penghubung adalah “it” karena “its” merupakan kata ganti kepemilikan (possessive adjective) untuk “a bike” (main clause). “Its” akan digantikan dengan relative pronoun “whose” sehingga kalimatnya akan menjadi:

Ali repairs a bike whose tires are red.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
a.   Relative Pronoun whose digunakan untuk menggantikan posisi kata ganti kepemilikan (possessive adjective) pada dependent clause setelah dependent clause bergabung dengan main clause.
b.   Relative Pronoun whose berfungsi menggantikan kata benda kepemilikan (noun) ataupun kata ganti kepemilikan (possesive adjective) yang berupa manusia dan berupa non-manusia (hewan, tumbuhan, dan benda mati).

Rabu, 07 Desember 2011

IF Clause (IF Conditional)

IF Clause atau yang juga dikenal sebagai IF Conditional digunakan sebagai bentuk pengandaian, Jika kita melihat ke dalam bahasa Indonesia, barangkali yang lebih tepat penyetaraannya adalah dengan “Jika …, maka ….”

IF Clause sendiri memiliki 3 bentuk dasar atau tipe. Artikel saya kali ini akan mencoba mengulas tentang ketiga bentuk IF Clause.

Tipe 1
IF Clause tipe ini digunakan untuk pengandaian yang masih mungkin terjadi. Adapun pola dasarnya sebagai berikut.

IF Subject + Verb 1, Subject + will + Verb 1
IF Subject + to be 1 (is/am/are) + Complement, Subject + will + be + Complement

Atau

Subject + will + Verb 1 IF Subject + Verb 1
Subject + will + be + Complement IF Subject + to be 1 (is/am/are) + complement

Contoh:
·         If Rahmat study hard, he will pass the exam tomorrow. (Posisi IF di awal)
Rahmat will pass the exam tomorrow if he study hard. (Posisi IF di tengah)
Makna: Jika Rahmad belajar dengan keras, maka dia akan lulus ujian besok. Ini berarti Rahmat masih memiliki kesempatan untuk lulus ujian dengan syarat yaitu belajar dengan keras.


Tipe 2
IF Clause tipe ini digunakan untuk pengandaian yang tidak mungkin terjadi. Adapun pola dasarnya sebagai berikut.

IF Subject + Verb 2, Subject + would + Verb 1
IF Subject + to be 2 (was/were) + Complement, Subject + would + be + Complement

Atau

Subject + would + Verb 1 IF Subject + Verb 2
Subject + would + be + Complement IF Subject + to be 2 (was/were) + complement

Contoh:
·         If Rahmat had wings, he would fly to the sky. (Posisi IF di awal)
Rahmat would fly to the sky if he had wings. (Posisi IF di tengah)
Makna: Jika Rahmad mempunyai sayap, maka dia akan terbang ke langit. Pada kenyataannya, Rahmat tidak memiliki sayap sehingga dia tidak bisa terbang ke langit.

·         If I were you, I would not say that to her. (Posisi IF di awal)
I would not say that to her if I were you. (Posisi IF di tengah)
Makna: Jika saya menjadi Anda, maka saya tidak akan mengatakan hal tersebut padanya. Pada kenyataannya, saya bukanlah Anda.


Tipe 3
IF Clause tipe ini digunakan untuk pengandaian yang berupa penyesalan. Adapun pola dasarnya sebagai berikut.

IF Subject + had + Verb 3, Subject + would + have + Verb 3
IF Subject + had + been + Complement, Subject + would + have + been + Complement

Atau

Subject + would + have + Verb 3 IF Subject + had + Verb 3
Subject + would + have + been + Complement IF Subject + had + been + complement

Contoh:
·         If Rahmat had chosen to play football instead of going to Puncak with his friends on their motobikes, he would not have got that terrible accident. (Posisi IF di awal)

Rahmat would not have got that terrible accident if he had chosen to play football instead of going to Puncak with his friends on their motobikes. (Posisi IF di tengah)

Makna: Jika Rahmad memilih bermain sepak bola daripada pergi ke Puncak bersama teman-temannya dengan sepeda motor, maka dia tidak akan mengalami kecelakaan yang mengerikan tersebut. Pada kenyataannya, Rahmat pergi ke Puncak dan mengalami kecelakaan.


Catatan:
  1. Perlu anda pahami bahwa posisi IF Clause di awal dipisahkan dari Main Clause-nya dengan menggunakan tanda koma (,).
  2. Kombinasi antara IF Clause dan Main Clause tidak harus berupa Complement dengan Complement atau Verb dengan Modal + Verb, tetapi bisa saja kombinasi keduanya; antara Verb dan Complement atau Complement dan Modal + Verb.

Selasa, 06 Desember 2011

Ketika Patah Hati (Tentang Hidup - Jilid 2)

“Mereka aja yang belum beruntung dapetin kita”
Film Jomblo

Hampir semua orang pernah merasakan patah hati dan dikecewakan. Beberapa pengalaman teman-teman saya menunjukkan bagaimana mereka ditinggalkan oleh orang yang mereka sangat cintai, mulai dari ditolak berkali-kali, dikhianati (selingkuh), tidak disetujui oleh orang tua, hingga adapula yang ditinggal untuk selamanya karena sang kekasih menghadap sang pencipta. Itu semua yang namanya cinta.
Kata orang, no pain no gain. Sederhananya istiah tersebut, tetapi memiliki makna yang dalam. Setiap kesukaran yang kita temui dalam percintaan akan menentukan seberapa besar dan tulusnya cinta yang kita miliki untuk orang tersebut. Melalui artikel ini saya ingin membagi bahan perenungan untuk para pembaca yang sedang dilanda patah hati.

Cinta tak harus memiliki.
Tidak semua yang kita cintai harus kita miliki. Seperti pada artikel saya sebelumnya, semua hal yang kita dapatkan berdasarkan atas usaha dan doa kita. Andaipun kita telah berusaha dengan maksimal dan berdoa se-khusyuk-nya tapi tidak jua membuahkan hasil yang diharapkan, itu semata karena dia yang kita cintai pada saat ini (INGAT! pada saat ini) memang bukanlah yang terbaik untuk kita.

Memberi tanpa Harus Menerima
Cinta yang tulus itu selalu memberi tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Ada diantara kita yang terlalu sibuk menghitung berapa biaya yang telah kita keluarkan untuk sang kekasih atau menghitung jasa yang telah kita berikan pada mereka yang kita cintai. Dalam beberapa kasus yang sempat disiarkan di sebuah acara televisi, sang gadis merasa dirugikan karena selama berpacaran dia-lah yang mengeluarkan biaya paling banyak ketimbang sang pacar. Adapula, sang pemuda yang merasa “dirugikan” oleh sang pacar secara finansial.
Saya tidak sedang menghakimi apakah mereka benar atau salah. Namun, coba tinjau lagi apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita berikan. Jika kita memang tulus, mengapa kita tetap sibuk menghitung apa yang telah kita berikan atau lakukan. Penyesalan dan benci yang timbul itu karena dari awal kita memang mengharapkan imbalan darinya.
Saat saya masih kuliah, saya sering memperoleh pengalaman berharga dari beberapa teman. Di tengah hujan lebat, saya pernah melihat seorang teman saya pernah menunggu pacarnya yang sedang menghadap dosen setelah ujian skripsi dengan sabar di depan kantor jurusan. Delapan bulan kemudian, dia diputuskan oleh sang pacar tanpa alasan yang jelas. Saya pun memberanikan diri menanyakan tentang apa yang dia rasakan, dia menjawab “Sakit, tapi saya tidak merasa menyesal atas pegorbanan saya”.

Cinta itu Buta
Sebuta apakah cinta tergantung dari pandangan kita tentang kelebihan dan kekurangan sang kekasih. Kagumi kelebihannya, tapi perbaiki kekurangannya. Melihat salah satu saja hanya akan memberikan kelalaian dan kekecewaan. Selain itu, jangan mengharapkan kesempurnaan jika kita sendiri juga tidak sempurna. Beberapa alasan putus cinta hanya karena kita memandang sang kekasih tidak cukup sempurna untuk kita. Inilah sala satu alasan putus cinta yang paling egois dalam sejarah hidup manusia. Cintanya hanya sibuk memandang kekurangan orang lain, buta kekurangan diri sendiri. Jika Anda pernah diputus oleh sang kekasih karena ini, bersyukurlah karena Anda lah yang sebenarnya menemukan kekurangan kekasih Anda sebelum semuanya terlambat.

Berharap Tanpa Waktu
Untuk yang satu ini saya punya cerita menarik. Saya mengenal seseorang yang begitu gigihnya menunggu dia yang dicintai-nya dengan sepenuh hati selama lebih kurang 19 tahun.

Anggap saja nama beliau Adeline. Adeline berpacaran semenjak kuliah selama 2 tahun. Namun malangnya, sang kekasih malah menikahi orang lain. Adeline pun terpuruk dan sering kali menangis, dan ini berlangsung selama 2 tahun semenjak mereka putus. Kesibukan kerja-lah yang membuatnya mampu untuk melupakan sang pujaan hati sementara waktu. Ini berlangsung selama 19 tahun setelah Adeline ditinggal kawin oleh sang kekasih. Hingga pada suatu waktu, tepat 2 tahun yang lalu, buah penantiannya terjawab. Ternyata tanpa sepengetahuan Adeline (karena sejak putus, Adeline tidak lagi berkomunikasi dengan mantannya), sang mantan kekasih bercerai dengan istrinya. Akhirnya Adeline dilamar oleh mantan kekasihnya dan sekarang hidup berbahagia.

Seperti mimpi rasanya ketika saya mendengar cerita tersebut dari yang bersangkutan. Begitu tabah dan kuatnya beliau menanti. Saya sendiri tidak akan sanggup untuk melakukannya. Adeline mengatakan bahwa dia yakin kepada Allah kalau suatu saat setiap doa dan keyakinan akan dinilai oleh-Nya. Inilah salah satu kuncinya, KEYAKINAN. Bagi para pembaca yang (maaf) kurang memiliki keyakinan dalam masalah seperti ini, saya sangat menganjurkan untuk tidak melakukan ini.

Pilihlah Aku
Tak ada satu orang pun yang suka jika dibandingkan dengan mantan dari kekasihnya. Padahal kalau kita merenungkan sejenak, dari situlah kita bisa memperoleh nilai lebih terhadap penilaian sang kekasih. Memberikan yang terbaik dengan setulusnya adalah salah satu yang bisa kita lakukan untuk memenangkan hatinya. Dia akan melihat kita memenuhi kriterianya sebagai kekasih yang “sempurna”. Banyak diantara kita yang gagal melihat ini sebagai peluang hanya karena keegoisan diri.


Demikianlah perspektif saya tentang patah hati dan cinta, semoga dapat menjadi bahan perenungan untuk kita semua, termasuk saya sendiri. Sekali lagi, saya mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang berkenan membaca artikel saya ini.

Narrative Text

Narrative text merupakan salah satu genre yang tertua karena telah digunakan selama berabad-abad dalam bentuk cerita rakyat (folktale), dongeng (fairytale), dan legenda (legend). Dalam perkembangannya, kita mengenal bentuk lain dari narrative text seperti cerita pendek, dan novel.
Sebenarnya recount text dan spoof text adalah bentuk lain dari narrative karena memiliki salah satu kesamaan generic structure pada bagian awalnya yaitu orientation yang berfungsi memperkenalkan tokoh yang terlibat dalam cerita, latar belakang dan sebagainya. Namun, menurut Genre Based Approach, recount text dan spoof text diklasifikasikan sebagai jenis genre yang berbeda.
Dalam artikel ini, saya akan mengulas tentang narrative text terutama yang berkaitan dengan Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Inggris pada sekolah menengah. Barangkali Anda akan mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan berikut karena pada dasarnya sumber dari penjelasan berikut berasal dari buku berbahasa Inggris. Namun, saya akan mencoba mengkombinasikan penjelasannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Fungsi Sosial (Social Function)
Menurut Derewianka (1991), tujuan dari narrative text adalah untuk menghibur, untuk mengajarkan atau memberitahuan, menambahkan refleksi si penulis akan sebuah pengalaman, serta memperluas imajinasi pembaca.
Gerot dan Wignell (1994) menambahkan bahwa fungsi sosial narrative text adalah berkaitan dengan menceritakan pengalaman yang sebenarnya maupun yang dialami oleh orang lain dalam cara yang berbeda dan narrative text melibatkan kejadian yang problematis (problematic event) yang mengarah kepada sebuah krisis atau sebuah titik balik yang pada akhirnya menemui penyelesaian (resolution).

Struktur Pembentuk (Generic Structure) dan Language Features
Berikut ini generic structure dan language feactures dari narrative text berdasarkan dua sumber, yaitu Derewianka , dan Gerot dan Wignell.
Menurut Derewianka (1991), ada beberapa karakteristik narrative text:

1.      Purpose (Social Function)
The purpose of narratives is to entertain, to teach or inform, to embody the writer’s reflections on experience, and to nourish and extend the reader’s imagination.

2.      Text Organization
-     Orientation      : set the scene and introduces the participants
-     Complication   : problem arise
-     Resolution        : the problem is resolved for better or worst

3.      Language Features
-     Specific, often individual participants with defined identities. Major participants are human, or sometimes animals with human characteristics
-     Mainly action verbs (material processes), but also many verbs which refer to what human participants said, or felt, or thought (verbal and mental processes).
-     Normally past tense
-     Many linking words to do in time.
-     Dialogue often included, during which the tense may change to the present or future.
-     Descriptive language chosen to enhance and develop the story by creating images in the reader’s mind.
-     Can be written in the first person (I, we) or third person (he, she, they)

Gerot and Wignell (1994) juga menambahkan beberapa karakteristik narrative text yang dijelaskan sebagai berikut:

1.      Social Function
To amuse, entertain and to deal with actual or vicarious experience in different ways, narratives deal with problematic event which lead to a crisis or turning point of some kinds which in turn finds a resolution.

2.      Generic Structure
-     Orientation                 : set the scene and introduces the participants
-     Evaluation                  : a stepping back to evaluate the plight
-     Complication              : a crisis arises
-     Resolution                   : the crisis is resolved, for better or for worst
-     Reorientation             : optional

3.      Significant Lexicogrammatical Features
-     Focus on specific and usually individualized participant
-     Use of material process, (and in this text, behavioral and verbal process)
-     Use of Relational Process and Mental Process
-     Use of temporal conjunction, and temporal circumstances
-     Use of Past Tense

Secara mendasar, karakteristik yang digambarkan baik oleh Derewianka maupun Gerot dan Wignell memiliki kesamaan, terutama pada fungsi sosial dan fitur bahasa yang digunakan. Hanya saja perbedaan yang timbul diantara para ahli tersebut terletak pada generic strcture dimana Gerot dan Wignell menambahkan evaluation dan re-orientation pada generic structure mereka.
Namun demikian, sebenarnya Derewianka, dan Gerot dan Wignell menjelaskan purpose atau social function, generic structure dan language features dari narrative text yang telah ada di dalam masyarakat kita.

Genres, their stages and characteristic lexicogrammatical features were not invented by systemic-linguists, but they have already out there in use in school and non-school environments. These genres arose in social interaction to fulfill humans’ social purposes. The staging and characteristic lexicogrammatical features of genres are probable, representing tendencies.
Gerot and Wignell (1994)


Contoh teks:

One Inch Boy
Long time ago, in Japan, there was an old couple that wished for a child. They wished for a child of any kind, even if he was only an inch tall, and their wish was granted. They got a child and sure enough he grew no taller than one inch. They named him Issun-Boshi which meant One Inch Boy. (Orientation)

 
One day Issun-Boshi decided he wanted to see the world. His parents wanted Issun-Boshi to have a fun life so they gave him a bowl, chopsticks and a needle he could use as a sword and waved goodbye. When Issun-Boshi came to the city, he was taken into care of a nobleman and was a servant for the princess. Issun-Boshi and the princes became good friends. One day on their way back from a nearby temple, they were stopped by a large green demon called an oni. The princess thought she was doomed for surely she could not be saved by a one inch boy. But the one inch boy acted quickly. He climbed the oni quickly and poked it in the tongue with his sword. Issun-Boshi jumped from the demon’s mouth just before it turned and ran. (Complication)

 
 The princess was saved! Then she made a wish. “I wish for Issun-Boshi to grow tall.” The princess squeezed her eyes shut and then opened them again. But the boy was still one inch tall. Then slowly, inch by inch, Issun- Bosh grew taller until he was the size of a full grown man. Issun-Boshi and the princess were married and they lived together happily for the rest of their lives,each over five feet tall. (Resolution)
Taken from: http://www.legendsoftheeast.com

Referensi:
Derewianka, B. 1991. Exploring How Texts Work. Sydney: Primary English Teaching Association (PETA).
Gerot, Linda & Peter Wignell. 1994. Making Sense of Functional Grammar. Sydney: Antepodean Educational Enterprise.